Makna Sebuah Nama

sesampainya di tema tentang “Kekayaan” pada Buku “Secercah Cahaya ilahi, hidup bersama Al-Qur’an” karya Quraish Shihab. tetiba aku serasa menemukan makna dari namaku, semakin meyakini dan semakin mensyukuri arti dari namaku selama ini.

Al-Qur’an dan As-Sunnah memilliki pengertian tersendiri tentang makna “kekayaan” yang cukup jauh bedanya dengan pengertian populer di era materialisme ini. Al-Qur’an menggunakan istilah ghina yang terulang sebanyak 73 kali, dan yang pada umumnya diterjemahkan dengan “kaya”, serta difahami secara keliru dalam arti “memiliki materi yang banyak”. sementara ulama tafsir ada yang terpengaruh dengan pengertian umum itu, sampai-sampai sebagian mereka kebingungan menjelaskan kapan Nabi Muhammad SAW memiliki kekayaan materi seperti yang disebutkan dalam QS. Adh-Dhuha ayat 8.Para pakar islam menjelaskan bahwa Nabi Saw tidak menilai kekayaan materi sebagai ghina. Beliau bersabda : yang dinamakan kaya bukanlah dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa” dan “ siapa yang ingin menjadi orang yang paling kaya, hendaklah apa yang berada di tangan Allah meyakinkannya daripada apa yang berada dalam genggaman tangannya”.

Apakah kekayaan Allah itu? tentu saja mustahil kita mampu melukiskannya. Akan tetapi, sekali lagi, dari Al-Qur’an dan Sunnah kita dapat memperoleh secercah informasi tentang hal tersebut. Ketika berbicara tentang kemurahan Al-Rahman pada surah Al-Rahman, nikmat pertama yang disebut-Nya adalah “pengajaran Al-Qur’an” (QS. Al-Rahman: 2). itulah kekayaan utama dan pertama. karena itu dalam suat riwayat disebutkan bahwa: siapa yang dianugerahi Allah (pemahaman) Al-Qur’an, kemudian dia beranggapan bahwa ada orang yang dianugerahi lebih utama/baik daripada apa yang dianugerahkan kepadanya itu, maka dia telah mengecilkan yang agung dan mengagungkan yang kecil”, karena itu pula, Nabi Saw bersabda: sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.“ dan dari sini kita dapat berkata bahwa tiada kekayaan sebelum Anda memiliki Al-Qur’an, dan siapa yang memilikinya maka dia kaya, sedangkan yang tidak memilikinya adalah miskin.

Tentang “kekayaan hati” ini jadi teringat dengan ndawuh guru bahasa Arab saat Aliyah dulu, “..boleh kita kaya, tapi jadilah yang kaya pula hatinya, supaya menjadi obat, syukur, syukur bisa membuka bengkel hati”. dulu, bahkan sampai kini aku masih bingung untuk mengartika makan kata itu. terlalu berat maknanya.

But, dengan pemaknaan diatas, syukur senantiasa dipanjatkan kepada Kekasih-Nya. serasa menemukan “jati diri” di detik-detik menjelang usia yang semakin tua ini.

Alhamdulillah, semoga aku sesuai dengan pemaknaan namaku diatas. Amien. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s