Yang dekat yg tak terjamah

Musim Ramadhan kali ini bertepatan dengan liburan panjang anak-anak sekolah, tentu juga banyak mereka yang lulus untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih. Kebetulan, di desaku saat ini sudah terdapat sekolah dari mulai jenjang dasar (MI/SD), MTs, dan MA. Pendidikan agama diharapkan mampu tertanam di dalam jiwa anak-anak semenjak kecil sehingga, Alhamdulillah, disini sekolah dengan tipe “madrasah” lebih diutamakan.

Saat ini, sedang musimnya pula untuk pendaftaran sekolah, dari tingkat SD/MI biasanya banyak melanjutkan ke MTs yang ada di desa sendiri, bahkan banyak juga anak-anak yang dari desa tetangga menyekolahkan anaknya ke MTs disini. Mungkin karena jarak untuk bisa ke sekolah kota jaraknya cukup jauh, dan memang sekolah sini dirasa sudah cukup “mampu” baik dari segi kualitas dan lumayan dalam spp-nya.

Berbeda cerita dengan anak-anak yang telah lulus dari MTs. Sejak angkatanku, mulai ngetrend anak-anak sekolah ke luar kota. Ada yang dimasukkan ke sekolah yang ada pondok pesantrennya, ada juga yang jauh-jauh ke kabupaten supaya masuk ke sekolah unggulan atau setidaknya yang masuk ke sekolah yang sudah mengajarkan keterampilan, atau ada juga yang sekolah di sekolah umum di kecamatan yang dianggap pendidikannya cukup “mampu”. Atau jika yang pas-pasan ekonominya akan sekolah di MA yang ada di desanya sendiri saja. Yah, syukurnya sekarang masyarakat banyak yang mau memberikan kesempatan kepada anaknya untuk melanjutkan pendidikan ke tingkatan sekolah menengah atas.

Seperti kisah yang aku kuping tadi pagi saat mengaji. Tidak sengaja nguping percakapan dua ibu-ibu yang sedang membicarakan anaknya yang saat ini masuk ke sekolahan di kota sebelah, sekolah sekaligus mondok. Mungkin karena pengalaman baru, entah baru menyekolahkan anaknya ke luar kota, atau bahkan baru memasukkan anaknya ke dalam suasana pondok pesantren, baik tentang urusan perut maupun acara pondok yang baru mereka rasakan, meskipun nyatanya hal-hal yang seperti itu bisa mereka dapatkan jika mereka, dan tentu ibunya mau mengajak anak-anak ikut mengaji –pengajian: eks, kuliah subuh, ngaji ngabuburit- kedua ibu tersebut terlihat sangat semangat seperti mengeluh atas keadaan anak-anaknya di pondok sana yang segalanya serba antri dan sederhana.
Mencari suasana yang agak mondoki di sini sebenarnya gampang-gampang susah. Gampang, karena sebenarnya disini sudah lumayanlah ada yang namanya pondok, bahkan baru-baru ini sudah ada pondok yang khusus untuk tahfidz. Sekitar ada tiga pondok dan 2 madin yang sudah berdiri di dua desa ini. Jelas menjadi sarana yang gampangkan untuk tahu setidaknya apa dan seperti apa pondok pesantren itu, kan? Jelas-jelas pondokan yang ada disini tidak memasang tarif tinggi untuk pembayarannya, bahkan ada juga yang tidak memberikan tarif atau gratis. Nikmat mana lagi yang kita dustakan?
Apalah arti bayaran jika kita bisa melihat mereka sudah bisa mengaji, baca qur’an atau setidaknya ikut menyimak ngaji kitab gundul. Ya, mengerti tentang agama-lah setidaknya. Tapi hal seperti itu agaknya memang susah, susah banget. Mereka lebih suka yang mbayar-mbayar ternyata. Lebih keren mungkin. Kan di pondok yang bagus, Sekolahnya terkenal, dan udah keluar desa lagi.
Tidak heran sih, peribahasa ‘gajah di samudera tampak, semut di pelupuk mata tak tampak’, bahkan Ibnu Athaillah juga menguatkan dengan ungkapannya bahwa : yang dekat dengan kita bisa menjadi yang paling tidak mengetahui tentang kita. Jika saya mencoba untuk mengaitkannya, keduanya sama-sama menyampaikan pesan bahwa yang dekat justeru yang paling sering diabaikan, atau yang paling tidak kita ketahui tentangnya. Begitu Kah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s