Doa Kamilin dan para lelaki

Sudah pernah dengar doa kamilin? Itu lho yang biasa dibacakan setelah sholat terawih. Sebenarnya aku pun mendapati doa ini waktu masih di bangku MA. Waktu itu sedang menginjak kelas 2 kalo tidak salah. Lalu ada apa dengan doa kamilin?

Dulu, kegiatan di pondok sebenarnya tidak begitu padat. Kegiatannya paling banyak ya mengaji kitab pada waktu pagi hari  (karena kita sekolahnya siang hari), kemudian dilanjut ngaji kitab lagi setelah isya. Sayangnya ngaji kitabnya itu masih dengan sistem bandongan. Jadi, ya begitulah.. yang penting hadir, memperhatikan atau tidaknya tidak masalah asal tidak mengganggu teman sampingnya. Tapi, sebenarnya ada yang selalu coba disempilkan oleh Abah kalo ngaji begitu. Apalagi sempilan-sempilan yang diberikan biasanya khusus untuk kaum lelaki. Harapan sederhananya itu begini : yaa, setidak-tidak lelaki itu bisa jadi imam yang baik dan memimpin tahlil.
Sesederhananya harapan tersebut ternyata baru bisa aku fahami sekarang, terutama di bulan Ramadhan yang suci ini. Waktu itu, saat bulan puasa juga, tiba-tiba pas ngaji anak laki-laki ditanya tentang doa kamilin dan tidak ada satupun anak-anaknya yang tahu, apalagi bisa melafalkannya. Akhirnya Abah menulis dalam secarik kertas tentang doa tersebut dan diwajibkan bagi semua anak laki-laki untuk menghafalkannya. Untungnya Cuma anak laki-laki saja yang diwajibkan menghafalkannya. Haha.
Tapi hafal jika hanya sekedar dihafalkan karena kepepet seperti itu ya hasilnya ya begitu, lupa kemudian. Bukan apa-apa, aku sendiri sering mengalami hal demikian soalnya.  Tapi begini, sejatinya ilmu yang kita dapatkan, secuilpun itu, apalagi untuk kehidupan beragama, memang seharusnya tak hanya sekedar hafal, tapi juga di amalkan. Sama seperti doa-doa untuk amalan sholat sunnah, jika memang sering dilakukan akan hafal dengan sendirinya doa tersebut, bukan?
Mengkaitkan doa Kamilin dengan para lelaki ini sebenarnya terlalu sempit, tapi, ya itu dia, karena lelaki yang memimpin untuk hal-hal semacam terawih, tahlil, dan imam terutama, mau tidak mau harus menguasai hal tersebut. Kenyataan demikian aku dapati bahkan di musholaku sendiri. Bayangkan saja, yang membaca doa kamilin si mbah yang sudah berusia lanjut, tentunya bacanya saja sudah tidak begitu jelas. Mau diserahkan kepada yang muda, ternyata banyak yang tidak hafal.
Meskipun demikian, sebenarnya perempuan juga wajib kok menguasai hal-hal tersebut, hanya tentang doa kamilin dan para lelakinya itu sebenarnya lebih pada LAKI-nya seorang lelaki yang tidak hanya sekedar memimpin rumah tangga kelak, tapi LAKI dalam bermasyarakat juga, begitu kan, LELAKI?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s