Minimalist enthusiast



Menjadi sangat tertarik dengan hidup Minimalis dimulai saat status diri berganti menjadi seorang isteri. Hidup mandiri bersama suami dan anak, tinggal di rumah kontrakan yang ukurannya terlalu besar untuk ditempati oleh kami bertiga.

Melihat seisi ruangan yang masih kosong, rasanya sangat membahagiakan. Membayangkan seorang bayi mungil yang bermain kesana kemari, tentu dia sangat senang karena ruangan tidak terhimpit oleh berbagai pernak-pernik rumah yang menyempitkan. Dia akan bebas bermain tanpa takut menabrak kursi ataupun meja.

Tidak ingin membeli banyak barang juga karena hidup saat ini masih sebagai kontraktor. Tidak terbayang saja ketika rumah banyak barang. Harus pindahin printilan yang banyak, dan ternyata dari yang tadinya dibutuhkan kemudian menjadi sampah beronggok dimana-mana. Ini pula yang melandasi untuk males pindah kontrakan.

Hidup minimalis yang aku lakukan nyatanya masih berkutat dengan isi lemari dan perabot rumah tangga saja. Meski itupun belum sepenuhnya benar-benar ‘minimalis’.

Hidup Miminalis mudahkah?

Seharusnya mudah, tapi nyatanya susah sekali.

Seharusnya mudah. Karena kita tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk beli barang. Lebih hemat pengeluaran dan bisa jadi jatah belanja pokok harian atau malah bisa ditabung.

Nyatanya, godaan mata ada dimana-mata. Sekalipun kita tetap di rumah seharian, jika gadget masih ditangan, kita tetap masih bisa berselancar di toko-toko Online, lalu Laper mata.

Nafsu. Tiada lain tiada bukan. Ia menjadikan kita serakah, meski nyatanya isi dompet nggak selalu penuh. Kita pun tahu dan sadar, tapi kita tetap saja memenuhi hasrat tersebut. Belanja ini itu, pesan ini itu. Lalu dianggurin.

Kenapa antusias untuk bergaya hidup Minimalis?

Mengurangi beban hidup. Hoho. Sederhananya hidup Minimalis adalah terapi agar kita lebih mencoba untuk mengendalikan segala hasrat untuk membeli sesuatu, lebih menyayangi segala yang sudah dimiliki, dan lebih mencintai diri sediri.

Sering banget kan sepulangnya kita dari kerjaan yang bikin pusing melihat rumah yang amburadul dengan barang dimana-mana. Sering pula kita bingung mau pake baju yang mana, ujung ujungnya yang sering dipake tetap yang itu itu aja. Terlalu banyak pilihan, terlalu banyak waktu terbuang untuk membereskan, untuk memilih. Terlalu menguras otak dan otot.

Saat ini memang belum benar-benar menerapkan hidup minimalis. Hal ini sangat terasa saat kami sekeluarga akan pindah ke Groningen. Karena hidup masih menumpang di rumah orang, maka barang-barang-barang harus segera dienyahkan dari rumah tersebut. Butuh banyak waktu dan banyak orang untuk mengeluarkan barang yang tidak banyak tersebut. Karena ternyata meski sedikit yang dibeli, nyatanya banyak juga barang-barang yang tidak digunakannya.

Jadi teringat masa-masa mondok dulu. setiap satu dari santri yang akan boyongan, santri-santri yang lain sudah membooking barang-barang dari si santri yang akan boyongan tersebut. Alhasil, saat aku akan boyongan, hanya sekitar satu tas yang masih tersisa untuk kubawa pulang. lainnya ludes diambil teman-teman santri lainnya.

Syukurnya, disini juga ada tetangga dan anak-anak santri yang mau menerima barang-barang bekas yang memenuhi rumah kontrakanku. Mereka sangat senang ternyata, meski nyatanya aku masih belum merelakan kehilangan barang-barang yang tentu banyak ceritanya bagi hidupku.

Menurut Marie Kondo dengan metode Konmarie miliknya, memiliki barang harus memiliki kegembiraan pada barang tersebut. Jika sudah tidak sering dipakai, hanya memenuhi pojokan lemari saja, barang tersebut tidak lagi spark joy. Cukup ucapkan selamat tinggal dan terima kasih pada barang sudah tidak digunakan tersebut, dan selanjutnya buang atau hibahkan.

Sekarang saat tinggal di Benua Eropa, ujung timur Belanda tepatnya, saat semakin tertarik dengan gaya hidup minimalis. Jelas disini sangat mendukung untuk menerapkan gaya hidup minimalis. Semoga dengan menerapkan gaya hidup minimalis semakin menjadikan diri lebih bersyukur, mengurangi kemubadziran, dan lebih spark joy terhadap suatu barang.

Advertisements

3 thoughts on “Minimalist enthusiast

  1. Fanny Fristhika Nila November 19, 2018 — 7:10 pm

    Aku pgn bisa seperti itu. Tp susah diterapkan kalo pasangan kita punya hobi menyimpan barang2 dgn alasan “mungkin suatu saat akan butuh” . Makanya aku srg ngomel ya gara2 ini. Aku ga suka numpukin brg, tp suami doyan banget huft…

    Like

  2. Kalau rumah sepi dari barang2 juga menghemat energi buat benah-benah mbak. Aku juga gak suka banyak barang di rumah. Mending waktu untuk benah-benahnya dialihkan buat piknik ama keluarga ya *ehgimana?

    Like

    1. Bener mbak. Itu saya bilang menghemat kerja otot dan otak. Jd ga usah bnyk beres, jd ga bikin stres. Bikin tmbh betah di rumah nggak sih malah. *eh

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create your website at WordPress.com
Get started
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close