Murphy’s Law in Marriage

Kemarin obrolan di grup mahmud tetiba menjadi sangat ramai. Grup ini memang grup yang ramainya tak kenal waktu, karena penghuninya berada di beberapa negara. Menemani teman yang sedang ditinggal suami shift malam, menemani teman yang nggak bisa tidur semalaman, menemani teman yang sedang sedih karena anaknya sakit, dan lain-lain. Grup ini menjadi supporter segala biduk rumah tangga. terima kasih banyak untuk kalian. :*

Hingga obrolan menjadi sangat serius. Sambil disambi makan mie pun sampe lupa, sampai mie pun berubah jadi seperti pizza saking lembeknya. Ngomongin apaan sih? hoho, topik tabu sih tapi penting untuk diambil pelajarannya. Perceraian Gisel dan Gading.

 Na’udzubillah tsumma na’udzubillah. Na’udzubillah min dzalik.

Image result for marriage
suami anak istri

Tapi kenapa tiba-tiba banget ngomongin Perceraian?

Karena kita perlu melihat sekitar, mengamati, mempelajari, dan sebisa mungkin menghindarinya. Pernikahan yang langgeng tentu setiap pasangan sangat mengharapkannya. Meski usia pernikahan masih seumur jagung, kita tentu menghendaki resep agak pernikahan awet hingga kelak tua nanti. saya menulis ini juga sebagai pengingat saya suatu saat nanti. 

Saya dan beberapa teman di grup tersebut sebenarnya tidak begitu hobi untuk menonton gosip. (eh atau cuma aku aja ya…. :D). Tapi eh tapi karena sedang trending ada aja yang membahas topik tersebut. Berbagai respon pun muncul. Bahkan ada juga ternyata cerita dari orang-orang di sekitar kita yang mengalami hal demikian.  Suatu kenyataan, bahwa dalam hidup memang tidak melulu tentang bahagia. Hidup selalu naik dan turun, begitu juga dalam pernikahan.

Setelah menikah, saya sendiri juga merasa banyak sekali pelajaran yang didapatkan. Karena menikah tidak melulu yang enak-enaknya aja kan. Perjalanan untuk menyatukan pendapat, menegoisasi kehendak diri, menurunkan mimpi, menyelaraskan langkah, dan banyak hal yang perlu dilakukan. Maka pasangan tak lebih adalah teman hidup yang menemani kita untuk menjalani langkah-langkah kehidupan, setelah sekian lama diasuh orangtua.

Ngobrol tentang perceraian, tetiba suami bilang tentang Murphy’s law.

  Apa itu Murphy’s law?

Murphy’s law adalah sebuah adagium yang dipopulerkan oleh Edward A. Murphy yang menyebutkan bahwa “If there are two ways to do something, and one of those ways will result in disaster, he’ll do it that way” . ‘Whatever can go wrong, will go wrong,’.

Dengan perumpamaannya seperti berikut : Kamu membawa payung setiap hari, karena dikhawatirkan akan hujan, tapi ternyata hujan pun nggak turun-turun. Karena merasa payung membebani tasmu, maka akhirnya kamu taruh payung tersebut di rumah. Gilirannya kamu nggak membawa payung, eh malah hujan deh.

Lalu apa hubungannya dengan perceraian dalam pernikahan?

Perceraian akan mungkin terjadi dalam setiap pernikahan. Pernikahan akan selalu awet juga pasti terjadi. Semua bergantung dari para pihak yang menjalaninya.

Murphy’s law secara tidak langsung mengajarkan bahwa kita harus selalu melihat cara-cara yang baik agar terjaganya hal baik. Tidak sekedar mencari solusi saat kejadian buruk menimpa.

Biasanya yang terjadi adalah kita terlalu terlena dengan kebahagiaan, hingga suatu ketika musibah datang, kita baru mencari letak kesalahannya. Kita terlalu mengutamakan hal-hal negatif berkeliaran dalam otak kita, hingga kita mengesampingkan energi positif yang sudah kita lewati saat kebahagiaan  kita nikmati.

Maka bagaimana agar seimbang?

Tetap terjaga dan sadar. Bahwa hidup sejatinya akan selalu naik dan turun. Pernikahan pun tak selalu bahagia. Tidak seperti cerita film-film masa kecil kita, saat si gadis kumal bertemu dengan seorang pangeran, dan mereka menikah. Lalu mereka pun bahagia, terus the end deh filmnya. Hoho

Saat berada dalam kesusahan, kita  perlu flashback dan melihat sekitar. Masih ada syukur yang dapat selalu dipanjatkan ditengah susahnya mereka yang lebih susah daripada kita.

Saat ego tak terbendung. Kita melihat diri dalam rumah tangga yang tidak hanya terdiri dari satu kepala. Ada banyak kepala dan berbagai isi kepala yang berbeda-beda untuk menghadapi suatu hal.

Saat mimpi menjulang tinggi. Mungkin pasangan kita memiliki mimpi yang berbeda jalannya dengan kita. Menegosiasikan mimpi untuk tercapainya mimpi masing-masing. Tentu saja susah. Tapi memang perlu demikian.

Saat ada perbedaan. lagi, kita perlu bernegosiasi. Melihat bahwa hal yang berbeda tidak selalu menjadi masalah adalah suatu keharusan. 

Melihat kembali apa saja yang sudah terjadi. Merunut berbagai hal yang memicu suatu hal buruk terjadi. Lalu, menyadari bahwa segala hal tersebut berada pada ketentuan Sang Maha Segalanya. Maka kita perlu pasrah setelah upaya-upaya tersebut dilakukan.


Namanya emak-emak, ngobrolin satu hal pasti mbeleber kemana-mana ya. Obrolan juga nggak bisa fokus itu-itu melulu. Menceritakan hal yang sama dari sisi orang yang berbeda. Lalu kita saling memberikan pendapat, lalu membahasa hal yang nyambung dengan hal tersebut lalu ganti topik. Begitulah. Eh, tapi kumpulan ibu-ibu ini bagi saya adalah supporter segala hiruk pikuk rumah tangga kami yang masih seumur jagung.

Yasudah, topik yang terlalu berat ini sebenarnya merasa perlu diabadikan saja karena obrolan dengan suami ini agak berat dan sayang jika harus dilewatkan begitu saja. Sepenuhnya bahasannya sih itu maksudnya dia, cuma saya bahasakan saja dalam tulisan. Punten-punten, kalo ada pemaknaan yang salah tentang Murphy’s Law tersebut ya.

Semoga kita selalu sadar dalam bahagia maupun duka ya. Amiin.

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Ewafebri says:

    Thank For Sharing mbak.. ! Penting buat orang yang belum berkeluarga seperti saya (semoga secepatnya, hihi…). Menyelaraskan visi misi ini mungkin menjadi kunci ya.. ? Yang saya lihat setiap pernikahan yang kita kira ” sempurna ” akan ada celah didalamnya meskipun celas itu terjadi karena sumber yang berbeda. Semoga kelak jika aaya mengalami kondisi berada di ” celah “, saya bisa berusaha memperbaiki ” celah ” tersebut bersama-sama.

    Like

    1. aamiin. ditunggu undangannya mbak ev… hehe #sksd. Saya juga masih seumur jagung mbak. Masih suka rusuh-rusuh dan kekanak-kanakan juga.. hoho..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s